You Are My Everything
Karya : Ikbal
Karya : Ikbal
Di
suatu pagi, seperti biasa aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar
mandi untuk memulai hariku. Setelah itu, aku mulai mengambil seragam sekolahku
dan ketika semua sudah siap, ketika aku ingin melangkah keluar dari kamarku.
Tiba-tiba suara petir di sertai gerimis menghentikan langkahku saat itu juga,
perlahan tapi pasti hujan pun semakin deras. Merasakan hal itu, aku hanya bisa
duduk termenung di depan jendela sambil menatap halaman rumahku yang kini sudah
di penuhi genangan air. Aku memang sangat benci dengan hujan, karena hujan
hanya akan membangkitkan kenangan lama yang ingin ku lupakan. Tepatnya kejadian
delapan tahun yang lalu, di mana aku masih duduk di bangku SD tepatnya saat aku
masih kelas 2.
Saat itu, musim telah berganti dari musim kemarau menjadi musim hujan. Karena hari itu hari libur, aku pun melanjutkan tidurku di temani gerimis di pagi hari. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dengan kerasnya, membuat siapapun yang ada di dalamnya akan merasa sangat terganggu. Tak puas dengan hanya mengetuk pintu, dia pun masuk ke kamarku lalu menggangguku dengan cara menarik telingaku.
Saat itu, musim telah berganti dari musim kemarau menjadi musim hujan. Karena hari itu hari libur, aku pun melanjutkan tidurku di temani gerimis di pagi hari. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dengan kerasnya, membuat siapapun yang ada di dalamnya akan merasa sangat terganggu. Tak puas dengan hanya mengetuk pintu, dia pun masuk ke kamarku lalu menggangguku dengan cara menarik telingaku.
“Om,
main hujan-hujan yuk?” kata anak itu dengan nada lembut.
“kamu
tidak lihat yah kalau aku masih tidur.
Jangan menggangguku! Oh iya, jangan pernah lagi panggil aku dengan
sebutan om. Karena aku tidak suka itu” kataku dengan nada cetus.
“tapi
kata ibuku, kamu itu adalah om kecil ku” balas anak itu.
“tapi
aku nggak suka di panggil om, aku itu masih anak-anak bukan orang tua.” Kataku
dengan nada tinggi.
Anak
itu adalah keponakan saya, namanya Sulfa. Hubungan keluarga antara aku dengan
Sulfa memang sangat dekat, meskipun seumuran. Tapi, kenyataannya dia adalah
keponakanku. Dia sering main kerumahku, begitupun sebaliknya.
Seperti biasanya, aku selalu datang lebih awal
ke sekolah. Berbeda 180
dengan sulfa, yang hampir setiap hari dia
terlambat ke sekolah. Meskipun sering terlambat, tetapi dia termasuk salah satu
siswa yang rajin ke sekolah. Sulfa duduk di belakang mejaku, dan setiap ada
kesempatan dia selalu menggangguku dengan cara apapun. Bukan hanya itu, di saat
istirahat dia selalu mengikutiku kemana pun aku pergi.
“Kring…..Kring...Kring…”
Suara bel tanda istirahat memecah keheningan di dalam kelas. Para siswa berlarian keluar kelas tanpa terkecuali. Aku lalu menuju ke kantin sekolahku. Dan pada saat aku menoleh ke belakang, sudah pasti ada dirinya, Sulfa yang sudah sejak tadi mengikutiku dari belakang. Karena heran, aku pun mulai bertanya padanya.
“Kring…..Kring...Kring…”
Suara bel tanda istirahat memecah keheningan di dalam kelas. Para siswa berlarian keluar kelas tanpa terkecuali. Aku lalu menuju ke kantin sekolahku. Dan pada saat aku menoleh ke belakang, sudah pasti ada dirinya, Sulfa yang sudah sejak tadi mengikutiku dari belakang. Karena heran, aku pun mulai bertanya padanya.
“kenapa
sih kamu mengikuti aku terus?” kataku sambil menatap sulfa dengan sinis
“siapa
yang ngikutin kamu, aku juga mau ke kantin kok” katanya dengan suara lembut
Karena
selalu diikuti oleh sulfa, akhirnya aku memutuskan untuk kembali saja ke kelas,
tak lama kemudian Sulfa juga ikut masuk ke kelas kemudian menghampiriku yang
duduk sendiri di bangku. Sulfa ingin memulai percakapan denganku, tetapi dia
merasa takut kalau aku akan marah. Akhirnya dia kembali ke bangkunya sendiri,
dan mengambil kotak makan dari dalam tasnya dan membukanya. Sebelum Sulfa
membagikan isi kotak makannya kepada teman-teman kelas yang lain, dia
menghampiriku dulu dan memberikanku makanan yang ia bawa pada hari itu.
“Reno,
hari ini aku membawa kue. Kata ibuku aku harus berbagi dengan kamu” kata sulfa
sambil menyodorkan kotak makannya.
“makasih
yah sulfa, tapi untuk kamu masih ada kan?” tanyaku pada sulfa
“masih
ada sih, tapi itu semua hanya cukup untuk teman-teman yang lain” kata sulfa
sambil tersenyum.
“kalau
begitu, kita makan berdua saja kue ini!” perintahku pada sulfa.
Dimata
teman kelasku Sulfa adalah cewek yang sedikit tomboy, dia itu paling suka naik
sepeda, dan bermain laying-layang. Meski terkenal tomboy, dia juga di kenal
sebagai orang yang baik. Dia lebih mementingkan orang lain dari dirinya
sendiri. Oleh karena itu, Sulfa mempunyai banyak teman.
Sepulang
dari sekolah, aku biasanya bergegas ke rumah Sulfa dengan menggunakan sepeda.
dan sesampainya aku disana, aku langsung di sambut oleh senyuman Sulfa yang
sudah sejak tadi menungguku dengan sepedanya yang berwarna merah muda. Kami
biasanya bermain sepeda sampai jam 4 sore, kami biasanya lebih senang naik
sepeda saat hujan turun. Perlahan aku dan Sulfa menjadi lebih akrab. Hampir
setiap hari aku dan sulfa bermain bersama. Hari demi hari kita lalui sama-sama,
suka duka kami lewati bersama. Hingga terjadinya konflik antara keluargaku
dengan keluarga Sulfa. yang mengharuskan aku harus berhenti main kerumah sulfa,
begitupun sebaliknya. Sejak konflik antar keluarga itu, setiap hari disekolah
aku tidak pernah lagi mengajak Sulfa berbicara, begitupun Sulfa, ia tidak ingin
memulai percakapan denganku lagi seperti biasanya. Hari demi hari perlahan
menjadi hampa.
Hari
demi hari berlalu, konflik antar keluarga mulai berakhir aku dan sulfa mulai
baikan kembali. Tetapi saat ini Sulfa mulai berubah banyak. Ia tak lagi seceria
yang dulu. Setiap hari dia hanya bisa termenung menjalani hari-harinya. Aku pun
semakin penasaran alasan sulfa berubah
“Sulfa
kamu kenapa? Aku lihat setiap hari, kamu selalu terlihat sangat sedih.”
“Kakek
aku sakit Reno, aku takut kalau di akan meninggalkanku” kata Sulfa dengan raut
wajah yang sedih.
“kamu
berdoa saja Sulfa untuk kakek kamu!” kataku menghibur dirinya
Tak
terasa, ulangan akhir semester pun dimulai. Hari ini aku datang agak terlambat.
Dengan terburu-buru aku menuju ruangan kelasku. Dan ternyata belum ada guru di
kelasku, yang saya lihat hanya teman kelasku yang berkumpul di belakang kelas
entah membicarakan apa. Dengan rasa penasaran, aku pun menghampiri mereka semua
dan mulai bertanya.
“kalian
lagi cerita apa?” kataku dengan raut wajah kebingungan.
“kamu
tidak tahu Reno, kalau kakek Sulfa meninggal?” kata salah satu temanku.
Mendengar
berita itu, sepulang sekolah, aku langsung menuju ke rumah Sulfa. Sesampai di rumah
duka, aku langsung menuju ke kamar Sulfa, dan di sana aku melihatnya menangis
sambil memeluk foto kakeknya. Aku pun menghampirinya
“kamu
harus sabar Sulfa!”
“aku
mau ikut reno sama kakekku, aku sayang sama dia” kata sulfa dengan air mata
yang masih mengalir deras dari kelopak matanya
“kamu
jangan menangis Sulfa, kakek itu orangnya baik, dia pasti akan masuk di surga”
Tak
terasa hari telah berlalu dengan cepatnya. 40 hari setelah kematian kakeknya,
Sulfa mengajakku untuk naik sepeda bersama. Hari ini sulfa sangat berbeda, dia
terlihat sangat lemah dan dari mulutnya tak keluar sepatah kata. Saat itu aku
masih melihat kesedihan yang mendalam dari mata indahnya, yang aku tahu
kesedihan itu dikarnakan besok adalah hari libur dan aku berniat untuk pergi
keluar kota bersama keluargaku. Aku juga tidak lupa minta izin dengan Sulfa
dengan berkata
“Sulfa,
besok aku akan keluar kota sama keluargaku”
“kalau
kamu pergi, nanti aku akan kesepian tidak punya teman” kata sulfa dengan wajah
sedih
“kamu
jangan sedih, setelah aku keluar kota. Kita pasti akan bertemu lagi” kataku
dengan senyuman.
Keeseokan
harinya, aku pun pergi bersama keluargaku. Hingga hari yang merubah segalanya
pun datang. Handphone ayahku berbunyi beberapa kali, karna kebetulan ayahku
sedang pergi dan aku melihat panggilan itu dari ibu Sulfa. Dengan perasaan
senang aku pun mengangkat telepon itu.
“halo”
kataku memulai percakapan
“halo,
ini kamu Reno?” kata ibu Sulfa dengan suara tangisan dan juga suara sirine
ambulance yang sangat ribut.
“iya
ini Reno” balasku dengan ekspresi yang heran.
“Reno,
Sulfa meninggal dunia, karena demam berdarah”
Kata
itu membuatku gemetar hebat, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Orang yang
selama ini membuatku tersenyum bahagia telah meninggalkanku, dia telah kembali
kepada sang pencipta menyusul kakek tercinta. Orang yang baik padaku telah
pergi menjauhiku. Yang aku sesali, aku tidak bisa melihat Sulfa untuk terakhir
kalinya. Kini semua terasa berbeda, saat aku ke rumah sulfa, Aku tak akan
pernah melihat senyumannya itu, sampai kapanpun.
Ini adalah hari pertamaku sekolah di SMA,
seandainya saja Sulfa masih hidup, pasti sekarang aku satu sekolah dengannya.
Tapi tuhan punya rencana lain untuknya, dan hujan adalah kenangan yang ingin ku
lupakan. Tapi, kenangan itu tak akan
bisa terhapuskan oleh air hujan begitu saja.