bunga berguguran

Minggu, 16 Oktober 2016

KUMPULAN CERPEN DAN PUISI:

You Are My Everything
Karya : Ikbal
Di suatu pagi, seperti biasa aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk memulai hariku. Setelah itu, aku mulai mengambil seragam sekolahku dan ketika semua sudah siap, ketika aku ingin melangkah keluar dari kamarku. Tiba-tiba suara petir di sertai gerimis menghentikan langkahku saat itu juga, perlahan tapi pasti hujan pun semakin deras. Merasakan hal itu, aku hanya bisa duduk termenung di depan jendela sambil menatap halaman rumahku yang kini sudah di penuhi genangan air. Aku memang sangat benci dengan hujan, karena hujan hanya akan membangkitkan kenangan lama yang ingin ku lupakan. Tepatnya kejadian delapan tahun yang lalu, di mana aku masih duduk di bangku SD tepatnya saat aku masih kelas 2.

Saat itu, musim telah berganti dari musim kemarau menjadi musim hujan. Karena hari itu hari libur, aku pun melanjutkan tidurku di temani gerimis di pagi hari. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dengan kerasnya, membuat  siapapun yang ada di dalamnya akan merasa sangat terganggu. Tak puas dengan hanya mengetuk pintu,  dia pun masuk ke kamarku lalu menggangguku dengan cara menarik telingaku.
“Om, main hujan-hujan yuk?” kata anak itu dengan nada lembut.
“kamu tidak lihat yah kalau aku masih tidur.  Jangan menggangguku! Oh iya, jangan pernah lagi panggil aku dengan sebutan om. Karena aku tidak suka itu” kataku dengan nada cetus.
“tapi kata ibuku, kamu itu adalah om kecil ku” balas anak itu.
“tapi aku nggak suka di panggil om, aku itu masih anak-anak bukan orang tua.” Kataku dengan nada tinggi.
Anak itu adalah keponakan saya, namanya Sulfa. Hubungan keluarga antara aku dengan Sulfa memang sangat dekat, meskipun seumuran. Tapi, kenyataannya dia adalah keponakanku. Dia sering main kerumahku, begitupun sebaliknya.
 Seperti biasanya, aku selalu datang lebih awal ke sekolah. Berbeda 180  dengan sulfa, yang hampir setiap hari dia terlambat ke sekolah. Meskipun sering terlambat, tetapi dia termasuk salah satu siswa yang rajin ke sekolah. Sulfa duduk di belakang mejaku, dan setiap ada kesempatan dia selalu menggangguku dengan cara apapun. Bukan hanya itu, di saat istirahat dia selalu mengikutiku kemana pun aku pergi.
“Kring…..Kring...Kring…”
Suara bel tanda istirahat memecah keheningan di dalam kelas. Para siswa berlarian keluar kelas tanpa terkecuali. Aku lalu menuju ke kantin sekolahku. Dan pada saat aku menoleh ke belakang, sudah pasti ada dirinya, Sulfa yang sudah sejak tadi mengikutiku dari belakang. Karena heran, aku pun mulai bertanya padanya.
“kenapa sih kamu mengikuti aku terus?” kataku sambil menatap sulfa dengan sinis
“siapa yang ngikutin kamu, aku juga mau ke kantin kok” katanya  dengan suara lembut
Karena selalu diikuti oleh sulfa, akhirnya aku memutuskan untuk kembali saja ke kelas, tak lama kemudian Sulfa juga ikut masuk ke kelas kemudian menghampiriku yang duduk sendiri di bangku. Sulfa ingin memulai percakapan denganku, tetapi dia merasa takut kalau aku akan marah. Akhirnya dia kembali ke bangkunya sendiri, dan mengambil kotak makan dari dalam tasnya dan membukanya. Sebelum Sulfa membagikan isi kotak makannya kepada teman-teman kelas yang lain, dia menghampiriku dulu dan memberikanku makanan yang ia bawa pada hari itu.
“Reno, hari ini aku membawa kue. Kata ibuku aku harus berbagi dengan kamu” kata sulfa sambil menyodorkan kotak makannya.
“makasih yah sulfa, tapi untuk kamu masih ada kan?” tanyaku pada sulfa
“masih ada sih, tapi itu semua hanya cukup untuk teman-teman yang lain” kata sulfa sambil tersenyum.
“kalau begitu, kita makan berdua saja kue ini!” perintahku pada sulfa.
Dimata teman kelasku Sulfa adalah cewek yang sedikit tomboy, dia itu paling suka naik sepeda, dan bermain laying-layang. Meski terkenal tomboy, dia juga di kenal sebagai orang yang baik. Dia lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, Sulfa mempunyai banyak teman.
Sepulang dari sekolah, aku biasanya bergegas ke rumah Sulfa dengan menggunakan sepeda. dan sesampainya aku disana, aku langsung di sambut oleh senyuman Sulfa yang sudah sejak tadi menungguku dengan sepedanya yang berwarna merah muda. Kami biasanya bermain sepeda sampai jam 4 sore, kami biasanya lebih senang naik sepeda saat hujan turun. Perlahan aku dan Sulfa menjadi lebih akrab. Hampir setiap hari aku dan sulfa bermain bersama. Hari demi hari kita lalui sama-sama, suka duka kami lewati bersama. Hingga terjadinya konflik antara keluargaku dengan keluarga Sulfa. yang mengharuskan aku harus berhenti main kerumah sulfa, begitupun sebaliknya. Sejak konflik antar keluarga itu, setiap hari disekolah aku tidak pernah lagi mengajak Sulfa berbicara, begitupun Sulfa, ia tidak ingin memulai percakapan denganku lagi seperti biasanya. Hari demi hari perlahan menjadi hampa.
Hari demi hari berlalu, konflik antar keluarga mulai berakhir aku dan sulfa mulai baikan kembali. Tetapi saat ini Sulfa mulai berubah banyak. Ia tak lagi seceria yang dulu. Setiap hari dia hanya bisa termenung menjalani hari-harinya. Aku pun semakin penasaran alasan sulfa berubah
“Sulfa kamu kenapa? Aku lihat setiap hari, kamu selalu terlihat sangat sedih.”
“Kakek aku sakit Reno, aku takut kalau di akan meninggalkanku” kata Sulfa dengan raut wajah yang sedih.
“kamu berdoa saja Sulfa untuk kakek kamu!” kataku menghibur dirinya
Tak terasa, ulangan akhir semester pun dimulai. Hari ini aku datang agak terlambat. Dengan terburu-buru aku menuju ruangan kelasku. Dan ternyata belum ada guru di kelasku, yang saya lihat hanya teman kelasku yang berkumpul di belakang kelas entah membicarakan apa. Dengan rasa penasaran, aku pun menghampiri mereka semua dan mulai bertanya.
“kalian lagi cerita apa?” kataku dengan raut wajah kebingungan.
“kamu tidak tahu Reno, kalau kakek Sulfa meninggal?” kata salah satu temanku.
Mendengar berita itu, sepulang sekolah, aku langsung menuju ke rumah Sulfa. Sesampai di rumah duka, aku langsung menuju ke kamar Sulfa, dan di sana aku melihatnya menangis sambil memeluk foto kakeknya. Aku pun menghampirinya
“kamu harus sabar Sulfa!”
“aku mau ikut reno sama kakekku, aku sayang sama dia” kata sulfa dengan air mata yang masih mengalir deras dari kelopak matanya
“kamu jangan menangis Sulfa, kakek itu orangnya baik, dia pasti akan masuk di surga”
Tak terasa hari telah berlalu dengan cepatnya. 40 hari setelah kematian kakeknya, Sulfa mengajakku untuk naik sepeda bersama. Hari ini sulfa sangat berbeda, dia terlihat sangat lemah dan dari mulutnya tak keluar sepatah kata. Saat itu aku masih melihat kesedihan yang mendalam dari mata indahnya, yang aku tahu kesedihan itu dikarnakan besok adalah hari libur dan aku berniat untuk pergi keluar kota bersama keluargaku. Aku juga tidak lupa minta izin dengan Sulfa dengan berkata
“Sulfa, besok aku akan keluar kota sama keluargaku”
“kalau kamu pergi, nanti aku akan kesepian tidak punya teman” kata sulfa dengan wajah sedih
“kamu jangan sedih, setelah aku keluar kota. Kita pasti akan bertemu lagi” kataku dengan senyuman.
Keeseokan harinya, aku pun pergi bersama keluargaku. Hingga hari yang merubah segalanya pun datang. Handphone ayahku berbunyi beberapa kali, karna kebetulan ayahku sedang pergi dan aku melihat panggilan itu dari ibu Sulfa. Dengan perasaan senang aku pun mengangkat telepon itu.
“halo” kataku memulai percakapan
“halo, ini kamu Reno?” kata ibu Sulfa dengan suara tangisan dan juga suara sirine ambulance yang sangat ribut.
“iya ini Reno” balasku dengan ekspresi yang heran.
“Reno, Sulfa meninggal dunia, karena demam berdarah”
Kata itu membuatku gemetar hebat, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Orang yang selama ini membuatku tersenyum bahagia telah meninggalkanku, dia telah kembali kepada sang pencipta menyusul kakek tercinta. Orang yang baik padaku telah pergi menjauhiku. Yang aku sesali, aku tidak bisa melihat Sulfa untuk terakhir kalinya. Kini semua terasa berbeda, saat aku ke rumah sulfa, Aku tak akan pernah melihat senyumannya itu, sampai kapanpun.
Ini adalah hari pertamaku sekolah di SMA, seandainya saja Sulfa masih hidup, pasti sekarang aku satu sekolah dengannya. Tapi tuhan punya rencana lain untuknya, dan hujan adalah kenangan yang ingin ku lupakan. Tapi,  kenangan itu tak akan bisa terhapuskan oleh air hujan begitu saja.